Widget HTML Atas

Kapitalisme Digital Sudah Bergerak Dan Prinsip Skemanya

Kapitalisme Digital: Tulisan lama mulai saya (Made Supriatma) publish. Dia menyoal gimana kapitalisme digital sebetulnya melenyapkan nalar serta keahlian kita berpikir kritis.


Kapitalisme Digital Sudah Bergerak, Solusinya?


Algoritma mendikte kita serta tanpa kita sadari membentuk metode berpikir kita. Apalagi kita tidak lagi berpikir. Kita terbuat buat jadi yakin.

" Do your own research!" begitu umumnya para pemengaruh( influencer) berkata pada para pemirsanya. Kala kita mulai mencari data- data itu, setelah itu data- data sejenis hinggap pada algoritma serta dilekatkan pada pencarian kita.

Dampaknya, kita cuma memandang yang sejenis. Algoritma itu" ketahui" preferensi kita. Tidak cuma itu, ia membentuk preferensi kita.

Pada kesimpulannya, kita merupakan ciptaannya. Kita jadi yakin. Kita jadi percaya dengan fanatisme semacam pada fanatisme agama.

Seketika kita jadi diberdayakan( empowered). Kita jadi suatu. Kita merasa berarti sebab kita berbeda. Kita merasa jadi sangat enlightened( melek) semacam orang menciptakan kebeneran dalam agama serta Tuhan.

Serta kita juga mulai memandang orang lain dengan" preferensi" kita. Kita merasa percaya dengan yang kita percayai serta mulai menghakimi orang lain: selaku globalis! Selaku nasionalis! Komunis! Fasis! Serta lain sebagainya.

Ironi dari kapitalisme digital merupakan kalau ia membagikan partisipasi seluas- luasnya kepada siapa saja buat bicara, berteriak, berkotbah, menyanyi-- apa saja!-- dengan kebebasan ang pula yseluas- luasnya.

Tetapi pada dikala yang bertepatan, tanpa kita sadari ia membentuk kita. Ia mendefinisikan apa yang kita maui, apa yang kita yakini, serta apalagi seolah- olah membagikan kekuatan buat kita!

Susah untuk aku buat tidak berkata kalau kapitalisme digital-- serta anak keturunannya yang sangat ganas, ialah media sosial-- merupakan candu warga.

Dia tidak memberdayakan apapun. Tetapi ia sebetulnya membuat orang tidak berdaya. Ia membentuk pemahaman palsu. Ia membentuk pemberdayaan buatan( artfisial) yang tidak lain dari hasil hidup dalam gelembung kepercayaan yang diciptakan media itu.

Orang merasa telah membela yang benar tanpa mengenali kalau apa yang dianggapnya benar merupakan suatu yang sangat terdistorsi.

Jika Kamu menunjang seseorang tokoh, misalnya, Kamu jadi sangat sensitif kala tokoh itu dikritik. Kamu meletakkan segala kebenaran pada tokoh itu. Kala dia dikritik, Kamu mempertaruhkan jiwa raga Kamu buat membelanya.

Sangat akrab dengan suasana hidup kemasyarakatan kita saat ini ini bukan?

Orang berkata kalau tidak terdapat yang benar di jaman saat ini ini. Serta ini merupakan abad paska- kebenaran( post- truth). Seluruh serba relatif. Seluruh memiliki tafsir atas apa saja.

Aku tidak sangat percaya. Buat aku, 2+2 senantiasa 4. Dalam hidup sosial, senantiasa terdapat yang benar. Senantiasa terdapat apa yang benar serta apa yang salah.

Buat aku, seperti itu berartinya meninjau ulang apa yang kita jalani. Meninjau ulang apa yang kita percayai. Senantiasa meninjau ulang apa yang kita percayai.

Jangan- jangan kita sebetulnya lagi diperalat oleh kepentingan- kepentingan lain? Jangan- jangan kebenaran yang kita yakini itu sebetulnya telah terdistorsi serta telah dikorupsi habis- habisan.

Keberanian buat mempertanyakan seperti itu yang sangat berarti buat dikala ini. Tidak hanya itu keberanian buat memandang dengan kacamata lain.

Jika Kamu berjuang buat suatu beranilah menyelidiki apakah yang Kamu perjuangkan itu betul- betul buat kepentingan orang yang Kamu bela?

Jangan- jangan Kamu membuka kesempatan kekuatan besar buat mengambilalihnya. Lebih kurang baik lagi, kekuatan itu menjadikan Kamu pahlawan sedangkan yang Kamu perjuangkan senantiasa menggeliat semacam cacing terinjak.

Apropriasi ataupun pengambilalihan itu terjalin kadangkala tanpa kita sadari. Oleh sebab itu, beranilah keluar dari gelembung imajinasi yang diciptakan oleh media dalam kapitalisme digital.

Tidak gampang pasti saja. Sebab kita kerap tidak siuman kalau kita hidup dalam gelembung ciptaan kita sendiri.

Wisata Cibaliung
Wisata Cibaliung
Mari Berjalan Mari Bercerita dengan Secangkir Petualangan

Related Posts

Post a Comment